Prespektif saya melihat Organisasi Kiri Dan Kanan.

Opini ini saya buat berdasarkan sebuah pengamatan pribadi, tentang perjuangan pembebasan bangsa Papua di era digital, terutama yang dilakukan oleh organisasi formal mahasiswa Indonesia maupun Papua yang menurut saya berwatak borjuis lagi _selfish_.

Terima kasih kepada kawan-kawan yang sudah mengingatkan saya untuk membuat artikel ringan ini, mengenai tema di atas yaitu Organ kiri, dan kanan. Mohon maaf sekarang baru saya bisa menulisnya, dan terima kasih juga untuk dorongannya menulis artikel ini.

Terbilang cukup dini bagi saya saat bergabung di organisasi formal kapitalistik—seperti organisasi mahasiswa (ormawa) atau paguyuban kedaerahan—yakni pada saat baru mendaftarkan diri di salah satu kampus swasta di Gorontalo. Karena menurut saya waktu itu, organisasi-organisasi itu membuat banyak kegiatan sosial yang menarik.

Saya dan kawan-kawan mahasiswa baru dari berbagai daerah bisa dipertemukan dan berbagi pengalaman. Namun, ada satu hal yang mengganggu saya hingga saat ini, perkataan mahasiswa senior kepada kami mahasiswa baru, perkataan yang membunuh karakter kami yang baru menyandang status sebagai mahasiswa:

“Junior ini harus ikut perintah senior, karena senior lebih berkuasa dan memegang _power_ dalam organisasi. Junior harus patuh saat mendengar kalimat ‘hee, Ade … ‘”.

Kalimat yang sungguh menggangu Bagaimana tidak, penggunaan julukan senior dan junior saja membuat status sosial kita berbeda. Padahal kita sama-sama mahasiswa, sama-sama membayar SPP ke kampus. 

Junior, senior, ah, seperti tentara saja!

Seiring berjalannya waktu, saya bertemu dengan lebih banyak orang di luar organisasi, dan yang terpenting orang yang banyak itu mempunyai beragam pikiran, tidak seperti di organisasi yang walaupun banyak anggota pikirannya nyaris seragam. Interaksi dengan mereka membentuk perspektif yang mungkin berbeda dengan teman-teman di dalam organisasi.

Soal kenapa saya menyebut organisasi-organisasi itu produk kapitalisme, pernah saya bahas dalam tulisan saya yang dibuat beberapa bulan lalu (silakan dibaca kalau berkenan). Saya menyebut mereka sebagai organisasi formal kapitalistik, karena berkaitan dengan apa yang akan saya bahas dalam tulisan ini, yakni hubungannya dengan Organ kiri, dan kanan. 

Saya kutip sedikit tulisan saya sebelumnya itu,

“untuk mencintai perjuangan kemanusiaan atau politik pembebasan bangsa papua, tidak cukup hanya bermodalkan rasa cinta yang tumbuh dari junior dan senior. Alias etika dan moral dan atau dengan mejadi penjabat. Kemudian setelah jadi penjabat apa akan jadi penjilat kapitalis Indonesia, dan imperialis Amerika Serikat.” 

Selanjutnya, saya awali tulisan ini dengan dasar argumentasi bahwa untuk memiliki pengetahuan tentang cinta kemanusiaan dan revolusi pembebasan bangsa Papua, tidak cukup dengan mempelajari sejarah dan politik bangsa West Papua, tapi juga butuh ilmu-ilmu dan proyeksi pikiran dari Marx, Lennin, dan materi kiri lainnya dan juga pada intinya kita bisa berfikir bertindak dan bekerja kolektif.

Pertanyaan kunci yang saya tawarkan dalam artikel ini, adalah bagaimana seorang anggota organisasi formal kemudian memutuskan menjadi seoarang kiri progresif atau Komratd?

Ada tiga kata kunci untuk menguraikannya, yakni manusia, organisasi kiri dan organisasi kanan. Manusia sebagai subjek yang selanjutnya mengenal lalu akan memutuskan untuk berpartisipasi aktif di organisasi kiri atau kanan.

Sebelum saya bahas organ kanan, saya ingin membahas kiri terlebih dahulu.

Bagi kaum kiri progresif atau sebut saja Komratd, (sebagaimana menghikuti pokok-pokok pandangan revolusioner, materialis, dialektika historis, atau sebuah flim video, yang viral di media sosial tentang pembunuhan, pemerkosaaan, eksploitasi sumber daya alam, dan lain-lain),  

Mereka ecara singkat menyatakan bahwa dunia alam semesta ini merupakan materi (baca: nyata) yang sifatnya objektif (benar-benar ada dan bukan hasil rekayasa). Bahwasanya alam semesta ini terdiri dari materi-materi yang kecil hingga besar, dari yang terlihat secara kasat mata hingga yang tidak terlihat dan seterusnya. 

Bahwa keberadaan atau eksistensi antara materi satu dengan materi lain merupakan SATU KESATUAN YANG ORGANIK. Artinya segala sesuatu yang ada di dinia ini BERHUBUNGAN satu sama lainnya, alias tidak bisa dipisah-pisahkan.

Kemudian bagaimana cara pandang saya terhadap organ kanan saat ini?

Sekali lagi berdasarkan hasil pengamatan saya selama ini, organisasi kanan ini kebanyakan mengikat dalam sebuah sukuisme-sukuisme, karena ada program kapitalistik yang dibuat supaya kami dipisah-pisahkan, caranya paguyuban masing-masing daerah diberikan dana untuk membiayai kegiatannya dan tempat tinggal, yang tentu saja dibutuhkan oleh mahasiswa Papua di rantau orang, dan mahasiswa lainnya yang Rantau. Tapi dengan mengokohkan sukuisme tadi. 

Kemudian masalah hierarkis senior-junior yang sudah saya singgung di atas. Perkataan mahasiswa senior di atas rupanya tidak sekadar perkataan, tapi juga mewujud menjadi praktik sehari-hari dalam organisasi paguyuban masing-masing kabupaten ataupun provinsi. Junior diperlakukan sebagaimana budak yang harus patuh kepada tuannya. Aturan dibuat-buat untuk melegitimasi praktik tersebut. Nilai-nilai etika dan moral dibawa-bawa sebagai pembenaran.

Jika kita ini mendaku diri sebagai pejuang kemanusiaan atau penjuang kemerdekaan bangsa Papua, sebagaimana nilai-nilai yang dikodekan organisasi-organisasi dalam visi-misinya, apa bedanya kita dengan kolonial Indonesia, kapitalis, yang melakukan penindasan sembari mengutip kalimat “kemerdekaan adalah hak semua bangsa”?

Dengan pernyataan saya di atas, organisasi formal seperi ormawa dan (_sorry to say_) paguyuban identik sebagai kaum kanan. Namun banyak yang menyamakan bahwa organisasi kiri dan kanan sama pada tataran metode. Padahal sependek pengamatan saya, organisasi kiri sangat berbeda dengan organisasi kanan, baik pada tataran ide maupun metode. Organisasi kiri sarat akan nilai-nilai kebebasan dan kesetaraan, maka dalam praktiknya tidak ada pembedaan antara satu mahasiswa dengan mahasiswa yang lain hanya karena satu lebih tua dibanding yang lain. Tidak ada guru dan murid, tidak ada senior dan junior. 

Saya belum puas mengoceh tentang bobroknya watak kaum kanan pada paguyuban. Bahwa dengan cara mereka, Papua tidak akan menjadi lebih baik, malah akan menjadi lebih buruk.  

Contohnya dalam sebuah diskusi ada salah satu kawan berpendapat seperti ini,

“kami harus belajar kepemimpinan supaya bisa mengubah daerah kami masing-masing”

Saya mengamati sejauh ini dari tahun ke tahun, sudah banyak tokoh pemimpin yang lahir di Papua maupun diluar papua tentunya indonesia, tapi tidak ada perubahan. Ajaran seperti inilah yang justru memperlemah gerakan. Kami dididik untuk menjadi pemimpin, menyambut tongkat estafet kebodohan.

Sebagai penutup, saya menyarankan kepada kawan-kawan dan kita semua memiliki tugas menyadarkan mereka yang ada dalam Zona nyaman di ormawa-ormawa atau paguyuban dengan cara disukusi dan mempertontonkan keteladanan sebagai manusia yang gandrung akan nilai kebebasan dan kesetaraan. 

Sementara ini dulu yang bisa saya tulis berdasarkan pada apa yang saya amati selama ini, terima kasih kepada Anda yang masih membaca artikel sederhana ini, mohon maaf juga jika pembaca ada yang tersingung dengan kalimat saya. Silakan komentari saya, karena dengan komentar kawan-kawan saya bisa menulis dengan lebih baik ke depannya. Terimakasih saya tungu kementar anda melalui karya mu.

Komentar