![]() |
| Photo : Bendera bintang Kejora, tipa, laut, alam dan manusia. |
Di sebuah desa kecil, jauh dari gemuruh pertempuran, berdiri sebuah rumah tua tempat para pejuang kemerdekaan sering berkumpul. Rumah itu milik seorang pria tua bernama Pak ap lani, yang sejak muda menjadi saksi atas segala pergerakan menuju kemerdekaan. Setiap malam, para pejuang duduk melingkar di ruang tamu berdebat panjang lebar. Mereka adalah tokoh-tokoh penting, pemimpin pergerakan yang dihormati dan disegani.
Namun, di balik kehormatan itu, tersimpan sebuah kenyataan yang pahit. Keegoisan beberapa tokoh sering kali menyulitkan perjuangan. Alih-alih bersatu demi tujuan bersama, mereka lebih mementingkan kepentingan pribadi dan ego masing-masing.
Suatu malam, perdebatan terjadi lagi. Pak nayak, seorang pemimpin yang dihormati, mengajukan rencana untuk melakukan pemberontakan besar-besaran. "Kita harus menyerang sekarang, sebelum penjajah sempat memperkuat diri lagi!" serunya dengan suara penuh keyakinan.
Tapi Pak loma, tokoh yang lain, segera memotong. "Kita tidak bisa sembarangan, Nayak! Kita harus menunggu saat yang tepat. Rakyat belum siap, logistik kita masih kurang."
"Sudah terlalu lama kita menunggu, loma! Apakah kau ingin terus bersembunyi di balik alasan-alasan? Penjajah tidak akan memberi kita waktu lagi!" balas nayak dengan nada marah.
Namun, di balik kata-kata itu, terselip ego yang besar. Pak nayak, meski penuh semangat, sering kali lebih mementingkan reputasinya di mata para pejuang lain. Dia ingin dikenang sebagai orang yang paling berani dan paling berpengaruh. Sementara itu, Pak loma, yang tampak selalu berhati-hati, sebenarnya tak ingin rencananya tergeser oleh ide nayak, karena dia ingin memastikan namanya tercatat sebagai pemimpin strategi paling bijak dalam perjuangan.
Perdebatan mereka terus memanas. Sementara itu, para pejuang lain yang duduk di sekeliling mereka hanya bisa menghela napas panjang. Mereka tahu bahwa kemerdekaan yang mereka impikan terasa semakin jauh karena para pemimpin mereka lebih sibuk saling menunjukkan siapa yang paling benar, daripada berfokus pada tujuan bersama.
Di sudut ruangan, duduk seorang pemuda bernama Yali, seorang pejuang muda yang baru saja bergabung. Wajahnya tegang, mendengar setiap argumen yang terlontar dari mulut para pemimpin itu. Dalam hatinya, ia merasa kecewa. "Apakah ini yang disebut perjuangan?" pikirnya. "Jika mereka lebih mementingkan diri sendiri, kapan kita bisa meraih kemerdekaan?"
Di tengah panasnya perdebatan, Pak ap lani yang biasanya hanya diam mendengarkan, tiba-tiba berdiri. Suaranya berat dan penuh pengalaman hidup. "Sudah cukup!" katanya lantang. Semua kepala menoleh, terkejut mendengar lelaki tua itu berbicara.
"Apakah kalian lupa apa yang kita perjuangkan di sini? Kemerdekaan bukan untuk kalian, bukan untuk reputasi atau ego kalian. Ini tentang rakyat, tentang tanah air yang merindukan kebebasan!" Pak ap lani menatap setiap orang di ruangan itu dengan tajam. "Setiap hari kita membuang waktu dengan perdebatan yang tak ada ujungnya, sementara penjajah semakin kuat. Bukannya bersatu, kalian malah terus-menerus memikirkan kepentingan pribadi. Apa kalian tidak malu pada diri sendiri?"
Kata-kata Pak ap lani sejenak menghentikan perdebatan. Para pemimpin itu saling pandang, menyadari kebenaran dalam teguran sang tua. Namun, ego mereka masih terlalu besar untuk mengakui kesalahan. Masing-masing tetap berpikir bahwa dirinyalah yang paling benar, meskipun tak lagi berkata-kata.
Yali, yang selama ini diam, berdiri dan mendekati Pak ap lani. "Pak, saya hanya seorang pemuda biasa, tapi saya tidak ingin perjuangan ini disia-siakan. Jika para pemimpin terus bertikai, biarlah kami, rakyat kecil, yang melanjutkan perjuangan. Kami tidak butuh nama besar, hanya butuh kebebasan."
Pak ap lani tersenyum dan menepuk bahu Yali. "Kau benar, Nak. Sejarah tak hanya ditulis oleh mereka yang berada di atas. Justru seringkali, perubahan besar terjadi karena keberanian orang-orang seperti kalian."
Malam itu, di bawah bendera yang setengah tiang, para pemimpin berjuang melawan ego mereka sendiri. Sementara di luar, rakyat seperti Yali bersiap mengorbankan segalanya untuk kebebasan, tanpa berharap nama mereka diingat dalam catatan sejarah.
Perjuangan terus berlanjut, meski lambat. Namun, sejarah akan selalu mencatat, bahwa sering kali, ego para pemimpinlah yang justru memperlambat langkah menuju kemerdekaan yang diimpikan.
(Papua harus merdeka)
.jpeg)
Komentar