MENJADI BUDAK DARI SESUATU YANG KITA CIPTAKAN SENDIRI

Photo: Ilustrasi.

Semakin kita menggunakan teknologi untuk memediasikan apapun, semakin kita bergantung padanya, semakin juga kita 

mengurangi relasi primer kita dalam kehidupan sehari-hari. Kita menghabiskan waktu kita untuk berkomunikasi melalui jaringan sosial, melupakan begitu saja lingkungan sekeliling di mana tubuh kita berada. 

Kebanyakan dari kita memang harus diakui, kesepian, kehilangan kemampuan untuk berkoneksi dengan sekeliling tubuh kita, sehingga kita semakin bergantung pada teknologi untuk memiliki relasi yang diharapkan lebih berarti, melalui layar ponsel dan monitor. Membunuh sepi dengan cara yang semakin menjerumuskan kita ke dalam kesepian.


Kebanyakan dari kita memang harus diakui, kesepian, kehilangan kemampuan untuk berkoneksi dengan sekeliling tubuh kita, sehingga kita semakin bergantung pada teknologi untuk memiliki relasi yang diharapkan lebih berarti, melalui layar ponsel dan monitor. Membunuh sepi dengan cara yang semakin menjerumuskan kita ke dalam kesepian.

Jumlah waktu yang kita habiskan melalui medium digital tersebut mengubah bagaimana cara kita bersikap dan berinteraksi di luar medium tersebut. Seperti diriku sendiri, yang terdorong oleh kebiasaan polaku, aku Berjam jam cuma scroll media sosial, atau bahkan kala aku bangun di pagi hari. Medium, dengan segala kemudahannya, mengundang perilaku demikian.

Masalahnya, aku juga tak akan bisa membiarkannya begitu saja apabila misal ada notifikasi dari media. Kata kuncinya tetap koneksitas. Aku, kamu, kita semua, berubah seiring berkembangnya teknologi. Kita semua berubah seiring berubahnya teknologi. 

Kupikir kita tak perlu lagi dengan arogan masih menyatakan bahwa kitalah, manusia, yang mengubah lingkungan sekitar kita, mengubah segalanya. Mungkin telah sampai di titik 

senjakala, bahwa kita harus berhenti bermain menjadi Tuhan, karena hal yang kita ciptakan, pada akhirnya telah mengatur, mengontrol, mengubah diri kita, manusia, tanpa dapat kita lawan lagi. 

Kita telah menjadi budak dari sesuatu yang kita sendiri ciptakan dan kini kita tak mampu lagi hidup tanpanya. Kita telah terpisah, terpilah, tercerai berai, saat kita merasa mengendalikan segalanya, terkoneksi dengan apapun. Semua kemajuan ini sesungguhnya justru membuat kita hanya terkoneksi dengan teknologi sementara di saat yang sama melepaskan semua koneksi lain yang sebelumnya kita miliki. 

Pada akhirnya kita hanya menghamba dan mengikatkan diri kita pada satu hal: teknologi.

Mungkin telah sampai di titik senjakala, bahwa kita harus berhenti bermain menjadi Tuhan, karena hal yang kita ciptakan, pada akhirnya telah mengatur, mengontrol, mengubah diri kita, manusia, tanpa dapat kita lawan lagi. Kita telah menjadi budak dari sesuatu yang kita sendiri ciptakan dan kini kita tak mampu lagi hidup tanpanya.


Kapan terakhir kali engkau merasakan rasa darah di mulutmu karena seseorang menghantam wajahmu? Kapan terakhir kali engkau merasakan sakitnya kepalan tersebut? Kapan terakhir kali engkau membiarkan seorang kekasihmu menggigit dan meninggalkan bekas pada leher, pundak, 

dan dadamu, sebelum akhirnya engkau menyemburkan semenmu di mulutnya? Kapan terakhir kali engkau patah hati dan berusaha tidur dalam posisi fetal demi melenyapkan nyeri dari dadamu? Apakah sensasi rasa tersebut dapat engkau ganti dengan apa yang engkau dapat di dunia digital? Apakah engkau memang benar rela meninggalkan semua rasa 

tersebut untuk tak pernah merasakannya lagi? Apakah engkau memang telah menguburkan semua sensasi rasa tersebut seperti masyarakat suku pedalaman Riau yang menyatakan bahwa mereka tak lagi merindukan hutan-hutan hijau nan asri mereka setelah mereka menyatakan diri memeluk Islam? Bahwa engkau telah menerima sebuah agama baru, yaitu teknologi, dan abai begitu saja pelajaran berharga yang dipaparkan oleh Victor Frankenstein satu abad lampau? Apabila engkau menjawab ya, maka semua telah terbuka dan terjelaskan, bahwa teknologi dan mesin telah sepenuhnya berhasil mengubah kita semua, manusia.

Komentar